Tentang marah
Ceramah
I
Irfanudin
1 Mei 2026
5 menit baca
1 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
{وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} (آل عمران: 134)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah wabil khusus kepada Bapak Kiai Haji [Nama Tokoh], seluruh tokoh masyarakat, para sesepuh, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah SWT di desa tercinta ini. Segambreng banyak terima kasih saya ucapkan atas kehadiran panjenengan semua, semoga langkah kaki kita menuju majelis ilmu ini dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.
Bapak, Ibu, saudara-saudari yang berbahagia. Hari ini kita berkumpul dalam rangka menimba ilmu, memperdalam pemahaman kita tentang agama Islam. Tema yang akan saya bawakan, insya Allah, tema yang sangat akrab di telinga kita, bahkan mungkin sangat akrab di hati kita, yaitu tentang "Marah".
Nah, ngomongin marah ini, kadang rasanya pengen mukul gendang saking gregetnya ya? Hehehe. Tapi jangan sampai niat ngenjoti gendang beneran ya, nanti yang punya gendang ngamuk duluan. Marah ini, jujur saja, adalah sifat manusiawi. Siapa di sini yang belum pernah marah? Kalau ada, angkat tangan. * (Jeda untuk melihat respon, jika ada yang angkat tangan, bisa diselipi candaan seperti: "Wah, luar biasa. Mungkin beliau ini pacarnya malaikat Jibril, jadi nggak pernah dimarahin.")*
Tapi tahukah bapak, ibu, saudara-saudari sekalian, bahwa marah itu seperti api. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi sumber kehangatan, bikin kopi jadi nikmat. Tapi kalau tidak dikelola, wah, bisa jadi kebakaran hebat, membakar semua yang ada, termasuk diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 134, Allah SWT berfirman:
{وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}
Artinya: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Ayat ini jelas sekali menegaskan, Allah itu suka sama orang yang bisa menahan marah. Bukan yang mukanya merah padam, urat leher kayak kabel listrik, lalu teriak-teriak kayak di konser dangdut koplo. Bukan itu. Tapi yang bisa menahan amarahnya.
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّﷺ: أَوْصِنِي. قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَاراً. قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Janganlah engkau marah." Orang itu mengulang permintaan, lalu beliau bersabda: "Janganlah engkau marah." (HR. Bukhari)
Bayangkan, hanya satu nasihat, tapi diulang-ulang oleh Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah marah ini. Kalau kita ini anak pesantren, dikasih wasiat sama Abi atau Kiai, pasti kita ingat terus kan? Nah, ini wasiat langsung dari Rasulullah SAW, masa kita lupa?
Jadi, bagaimana cara kita mengendalikan amarah ini? Ada beberapa tips ringan ala desa yang bisa kita coba.
Pertama, kalau sedang ingin marah, coba ingat nasihat Nabi tadi: "Jangan marah." Kadang, tanpa disadari, kita marah karena ada sesuatu yang tidak sesuai harapan. Coba tarik napas panjang. Hembuskan pelan-pelan. Kalau perlu sambil bilang, "Astagfirullah... sabar, sabar..." Seperti jurus sakti mandraguna.
Kedua, kalau memang tidak bisa dihindari, cobalah untuk mengubah posisi. Kalau sedang berdiri, duduklah. Kalau sedang duduk, berbaringlah. Kalau sedang mengendarai motor, menepilah dulu, jangan sampai nyenggol kambing tetangga. Hehehe. Pernah lihat orang marah sambil lari-lari? Nggak ada kan? Karena kalau marah itu biasanya ya diam di tempat, atau kalaupun bergerak, itu mau nyari sasaran. Nah, dengan mengubah posisi, harapannya tempramen kita ikut berubah.
Ketiga, kalau amarah itu tak tertahankan, pergilah ke tempat yang sepi. Mengadulah pada Allah SWT. Ucapkan doa:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي... (Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku...)
Atau, bisa juga berdoa seperti ini:
"Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk memaafkan si anu yang bikin naik darah, biar dompetnya nanti tebal dan hati saya adem ayem." Hehehe.
Keempat, kalau memang terpaksa harus bicara saat marah, jangan sampai kata-kata keluar dari mulut kita itu seperti peluru nyasar, menyakiti orang lain. Ingat, lisannya manusia itu kalau sudah lepas, susah banget nariknya lagi. Ibarat nasi sudah jadi bubur, nggak bisa dibalikin jadi beras lagi. Kalau perlu, diam saja. Diam itu emas, apalagi kalau emasnya banyak. Hehehe.
Ulama kita, Imam Syafi'i rahimahullah, pernah berkata:
"إِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ"
Artinya: "Jika engkau marah, maka diamlah."
Kenapa kok diam? Karena saat marah, akal sehat kita seringkali lagi liburan ke luar negeri. Yang keluar dari mulut kita bisa jadi kata-kata yang tidak pantas, menyinggung perasaan, bahkan bisa memutuskan tali silaturahmi. Kalau sudah begitu, yang rugi siapa? Ya kita sendiri.
Bapak, Ibu sekalian. Mengendalikan amarah itu bukan berarti tidak punya perasaan. Tapi itu adalah bukti kekuatan iman kita. Orang yang paling kuat itu bukanlah orang yang paling jago gulat, tapi orang yang paling kuat mengendalikan dirinya saat marah.
Ada kisah lucu dari Kiai saya dulu. Beliau ini kalau mau marah, hidungnya saja yang bergerak-gerak, tapi bibirnya terkunci rapat. Kalau sudah begitu, santri-santrinya pada kalang kabut, pada ngumpet ke belakang pondok. Tapi anehnya, setelah itu, justru Kiai saya akan memanggil santri yang bikin beliau kesal, lalu diberinya hadiah, entah itu buku atau makanan. Katanya, "Ini sebagai tanda agar kamu ingat, kalau marah jangan terus-terusan, nanti cepat tua." Masya Allah, luar biasa kan? Beliau marah tapi malah memberi.
Jadi, mari kita berlatih untuk menjadi orang-orang yang menahan amarah. Kalau suami marah, jangan dibalas marah. Kalau ibu marah, jangan diteriaki balik. Kalau anak marah, didengarkan dulu keluh kesahnya. Saling memaafkan, saling mengerti, itu adalah kunci kebahagiaan rumah tangga dan keharmonisan masyarakat.
Ingatlah, surga itu dijanjikan bagi orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan. Luar biasa kan pahalanya? Siapa yang mau masuk surga? Kita semua pasti mau ya. Mari kita mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil. Kalau ada tetangga yang nyebelin, doakan saja dia agar jadi baik. Kalau suami pulang telat, jangan langsung dibanting panci, tapi sambut dengan senyuman. Hehehe, walau berat ya.
Penolakan terhadap amarah yang disertai maaf adalah perbuatan mulia, seperti yang Allah sebutkan dalam surat Ali Imran ayat 134 tadi. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Mari kita jadikan rumah tangga kita, desa kita, lingkungan kita, menjadi tempat yang teduh, damai, dan penuh cinta. Jauh dari amarah yang membabi buta, dekat dengan maaf yang lapang dada.
Demikianlah sedikit tausiah yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan, karena kesempurnaan hanya milik Allah, dan kesalahan itu datangnya dari kita yang fakir ilmu ini.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.